Minggu, 04 Juni 2017

DASAR-DASAR MANAJEMEN; PENGEMBANGAN MANAJEMEN



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Telah diketahui bahwa manajemen terus berkembang hingga saat ini. Ilmu manajemen memberikan pemahaman kepada kita tentang pendekatan ataupun tata cara penting dalam meneliti, menganalisis dan memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan manajer.
Manajemen adalah suatu bentuk praktik yang pernah dilakukan oleh beberapa organisasi di masa lampau ( tepatnya pada era prasejarah ) tetapi memiliki suatu disiplin akademik baru. Sejak itu, pengetahuan tentang manajemen tumbuh dan berkembang secara pesat dan cepat.
Pertumbuhan pengetahuan manajemen berkembang secara tidak berurutan yang didasarkan pada fokus tertentu.Karena, pengetahuan manajemen datang dari aneka ragam latar belakang akademis yang berbeda, sehingga memunculkan bermacam prespektif teoritis, dan tidak ada teori manajemen yang berlaku umum, karena pengetahuan manajemen berisikan beberapa persaingan dengan berbagai prespektif yang bersifat parsial teoritis. Pada makalah ini, akan menjelaskan tentang faham/ aliran manajemen dan administrasi, bapak ilmu manajemen dan teori manajemen modern, dan pionir -pionir manajemen.
Tinjauan ini diharapkan agar dapat memudahkan pembaca  untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan pemikiran manajemen guna memahami disiplin manajemen.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja faham/ aliran manajemen dan administrasi ?
2.      Siapakah bapak ilmu manajemen ?
3.      Bagaimanakah teori manajemen modern ?
4.      Siapakah pionir – pionir manajemen ?
BAB II
PEMBAHASAN
1.      Faham/ Aliran Manajemen dan Administrasi
Teori dan prinsip manajemen memberikan kemudahan dalam menentukan hal-hal yang harus dikerjakan untuk dapat secara efektif menjadi seorang manajer, yaitu orang yang menjalankan fungsi manajemen. Manajer dalam mengelola otoritasnya tanpa menggunakan teori dan prinsip, aktivitas berjalan hanyalah firasat dan harapan sehingga hasilnya tidak akan memberikan kepuasan kepada berbagai pihak.
Ellen A. Benowitz, seperti halnya Stephen P. Robbins, melakukan pemetaan atas perkembangan pemikiran manajemen. Benowitz membaginya ke dalam 5 kategori perkembangan pemikiran yaitu: (1) Classical School of Management (Aliran Manajemen Klasik), (2) Behavioral Management Theory (Teori Manajemen Perilaku), (3) Quantitative School of Management (Aliran Manajemen Kuantitatif), (4) Contingency School of Management (Aliran Manajemen Kontijensi), dan (5) Quality School of Management (Aliran Manajemen Kualitatif). Masing-masing tahap perkembangan pemikiran tersebut masih dapat dibagi lagi ke dalam sub-sub pemikiran seputar manajemen.[1]

a.       Aliran Manajemen Klasik
Teori manajemen klasik terbentuk sebagai upaya menemukan cara terbaik untuk memanajemen dan mengerjakan pekerjaan. Aliran Manajemen Klasik (Classical School of Management) terdiri atas dua cabang: Aliran Saintifik Klasik dan Aliran Administrasi Klasik.
1)      Aliran Saintifik Klasik(Classical Scientific School)
Aliran ini muncul akibat adanya kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Penekanannya pada bagaimana menemukan cara terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan dengan cara menguji bagaimana sesungguhnya proses kerja dilakukan serta keahlian apa yang dibutuhkan oleh pekerja dalam proses kerja tersebut. Dan tokoh-tokoh yang berperan  didalamnya adalah Frederick Taylor, Henry Gantt, Frank dan Lillian Gilbreth.
2)      Aliran Administrasi Klasik (Classical Administrative School)
Aliran Administrasi Klasik ini berkonsentrasi pada organisasi secara keseluruhan.Penekanannya lebih pada bagaimana menciptakan prinsip-prinsip manajerial daripada cara-cara kerja yang baru.Tokoh-tokoh yang berperan didalamnya adalah Max Weber, Henri Fayol, Mary Parker Follett, dan Chester Irving Barnard.[2]
b.      Aliran Manajemen Perilaku
Penekanan pemikiran manajemen pasca aliran klasik ada di seputar interaksi dan motivasi individu di dalam organisasi.Pemikiran di era aliran manajemen ini dikembangkan oleh Hugo Munsterberg yang tertuang dalam buku karyanya, Psicology and IndustrialEfficiency (1916).Pemikiran manajemen yang terkandung didalamnya adalah peranan psikologi dalam meningkatkan produktivitas. Peranan psikologi dalam manajemen untuk meningkatkan produktivitas organisasi secara efektif, efisien dan optimal meliputi tiga hal :
1)      Penemuan orang yang memiliki sikap mental yang cocok dengan pekerjaan
2)      Penemuan kondisi psikologis agar hasil yang dicapai memuaskan
3)      Perlu ditemukan cara atau metode yang bisa digunakan untuk mempengaruhi pekerjaan agar diperoleh hasil yang sebaik-baiknya.[3]
Dalam perkembangannya motivasi menyangkut perilaku manusia dan merupakan sebuah unsur yang vital dalam manajemen.Ia dapat didefinisikan sebagai pembuat seseorang menyelesaikan pekerjaannya dengan semangat. Sebuah motivasi bagi seorang manajer adalah tugas untuk menciptakan kondisi-kondisi kerja yang akan membangkitkan dan memelihara keinginan yang bersemangat.
Selain Hugo Munsterberg, Elton Mayo dan Max Weber termasuk dalam pakar-pakar yang mengikuti aliran ini.
c.       Aliran Manajemen Kuantitatif
Aliran manajemen kuantitatif adalah hasil dari riset manajemen yang diadakan selama Perang Dunia II.Pada saat Perang Dunia II, matematikawan, fisikawan, serta ilmuwan ilmu-ilmu pasti lainnya menggabungkan diri ke dalam bidang kemiliteran untuk melawan aliansi Jerman, Jepang, dan Italia.Pendekatan kuantitatif atas manajemen melibatkan penggunaan teknik-teknik kuantitatif-matematika seperti statistik, model informasi, dan simulasi komputer untuk memprediksi proses pembuatan keputusan.Aliran ini memiliki beberapa cabang.
1)      Manajemen Sains
2)      Manajemen Operasi
3)      Sistem Informasi Manajemen (SIM)
d.      Aliran Manajemen Kontijensi (Situasional)
Aliran ini muncul sebagai hasil riset tahun 1960-an dan 1970-an dan sekaligus merupakan reaksi penolakan atas aliran saintifik. Riset-riset tersebut fokus pada faktor-faktor situasional yang mempengaruhi struktur dan gaya kepemimpinan organisasi di aneka situasi berbeda.
e.       Aliran Manajemen Kualitas (Quality School of Management)
Aliran Manajemen Kualitas adalah konsep menyeluruh seputar leading dan operating suatu organisasi.Yang dimaksudkan untuk meningkatkan performa kerja organisasi secara terus-menerus dengan fokus pada customer.Dengan kata lain, Manajemen Kualitas fokus pada bagaimana cara mengorganisasi secara total untuk menciptakan pelayanan terbaik pada pelanggan.[4]
Munculnya aliran-aliran tersebut pada perkembangan pemikiran manajemen, ditandai dengan lahirnya gerakan manajemen ilmiyah yang dipelopori oleh Frederick Winslow Taylor di Amerika, dan Henri Fayol di Perancis, yang dimulai pada tahun 1886.

2.      Bapak Ilmu Manajemen
Dalam ilmu manajemen F.W. Taylor adalah Bapak Gerakan Manajemen “ BapakScientific Management” karena ialah yang pertama kali mengemukakan idenya tentang manajemen dengan cara yang serba system ( menggunakan manajemen dengan metode-metode ilmu pengetahuan ).[5]
Pada ilmu manajemen ini terdapat pakar-pakar yang memikirkan dan mengembangkan dalam bidang tertentu dan berperan dalam pengembangan ilmu manajemen tersebut, diantaranya adalah:

a.    Henri Fayol (l916)              : Bapak Theori Administrasi Modern
b.   Robert Owen (1828)           : Bapak Manajemen Kepegawaian
c.    Charles Babbage(1839)      : Bapak Komputer
d.   Hugo Munsterberg (1916)  : Bapak Psikologi Industri[6]
3.      Teori Manajemen Modern
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa praktik manajemen sudah berlangsung di era prasejarah, tetapi studi manajemen yang sistematis masih relatif baru.Manajemen sebagai salah satu bidang dari studi akademis merupakan produk yang sangat esensial pada abad kedua puluh.
Manajemen modern berkembang dalam dua aliran.Aliran pertama merupakan pengembangan dari aliran hubungan manusiawi yang dikenal sebagai Perilaku Organisasi.Aliran kedua dibangun atas dasar ilmiah dikenal sebagai aliran Kuantitatif (Operation Research dan Management Science atau manajemen Operasi).Perkembangan aliran Perilaku Organisasi ditandai dengan pandangan dan pendapat baru tentang perilaku.manusia dan sistem sosial.[7]Pada awal pertumbuhan dan perkembangan budaya, manajemen merupakan sesuatu yang dipelajari lewat lisan dan proses mencoba, bukan dipelajari di sekolah, dibaca dan tertulis didalam buku teks. Juga, tidak berdasarkan pada teori dan pengalaman.
Di era teknik teori mencetakan modern dan media elektronika, ribuan ahli teori manajemen dan praktisi sudah meringkas dan memadatkan serta dimuat di beberapa buku teks, jurnal periodic, monograf-monograf riset, beberapa microfilm, video, tape audio, computer dan berbagai hardisk.Hal ini memudahkan bagi para manajer, pelaku bisnis, peneliti, periset, mahasiswa dan profesi lainnya untuk menimba pengalaman pada teori yang diaplikasikan kedalam usaha yang faktual.
Perkembangan ilmu manajemen ini juga bertujuan untuk membawa pada perubahan, yaitu perubahan disuatu sisi untuk memperbaiki kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dan disisi lain, mengupayakan perubahan perilaku pekerja/ profesi untuk meningkatkan produktivitasnya. Tetapi perubahan ini harus dilakukan dengan cara hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai hal agar manfaat yang ditimbulkan oleh perubahan harus lebih besar daripada beban kerugian yang harus ditanggung.[8]
4.      Pionir-Pionir Manajemen
a.       Frederick Winslow Taylor
Bapak Gerakan Manajemen Ilmiyah, pionir pertama yang mengemukakan idenya tentang manajemen dengan cara yang serba sistem ( menggunakan manajemen dengan metode-metode ilmu pengetahuan ).
b.      Henry Fayol
Bapak Teori Administrasi Modern, pengembang pertumbuhan pemikiran manajemen operasional modern lewat karya tulisnya Administration Industrielle et Generale( Administrasi Industri pada Umumnya, 1916 ).
c.       Robert Owen (1771-1858)
Bapak Manajemen Kepegawaian Modern, karena pemikiran manajemen yang dikembangkan tentang semua hal yang berkenaan dengan kepegawaian. Dan juga pengembang pemikiran perlunya Sumber Daya Manusia.[9]
d.      Charles Babbage (1792-1871)
Bapak Komputer, karena pemikirannya tentang perlunya pembagian kerja dan penggunaan matematika dalam efisiensi penggunaan fasilitas dan material produksi.
e.       Hugo Munsterberg
Bapak Psikologi Industri, karena ia telah mengembangkan pemikiran manajemen yang terkandung didalamnya adalah peranan psikologi dalam meningkatkan produktivitas.[10]
f.       James Watt dan M.R. Boulton
Pengembang pemikiran teknik-teknik manajerial dan manajemen kepagawaian.
g.      Gant,Frank B. Gilbert dan Lilian Gilbert,
Pakar-pakar pengikut F.W. Taylor yang mengembangkan pemikiran manajemen ilmiah dengan ilmu pengetahuan.[11]
h.      James D. Money dan Chester Barnard
Pakar ekonomi sebagai pengikut Henry Fayol yang menuangkan pemikiran manajemen dengan teori sistem.
i.        Max Weber dan Elton Mayo
Pakar yang mengetengahkan hubungan antarumat manusia dan mengemukakan teori birokrasi, sebagai pengikut Hugo Munsterberg.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Perkembangan teori manajemen dimulai dari teori manajemen klasik dengan pemikiran manajemen ilmiah dari F.W. Taylor dan berkembang dengan pemikiran-pemikiran para pakar pada bidang-bidang tertentu guna mewujudkan metode terbaik untuk melakukan tugas manajemen.Dan mengembangkan teori pengelolaan organisasi yang mendasari manajemen yang efektif.
Pada dasarnya manajemen terbentuk atas beberapa faham dan aliran yang dikembangkan agar mudah dipahami oleh manusia dan dapat dijalankan pada kehidupan pribadi maupun organisasi.
Perkembangan selanjutnya yaitu dengan menekankan pendekatan sistem yang dipersatukan dan diarahkan dari bagian-bagian yang saling berkaitan, dan memadukan antar aliran dalam suatu sistem yang diterapkan menurut situasi dan lingkungan yang dihadapi.



DAFTAR PUSTAKA
Frinces, Z. Heflin, Manajemen Konsep Membangun Sukses, Jogjakarta: Mida Pustaka, 2008
Nasution, M. Nur, Manajemen Perubahan, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010
Siswanto, Pengantar Manajemen, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005
Terry, George R. dan Leslie W. Rue, Dasar-dasar Manajemen, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1992
Zuhri, Menejemen (Beberapa Masalah Pokok), Semarang, 1987






[3]Dr. Z. Heflin Frinces, BSc, MSc.Soc, MA, Manajemen Konsep Membangun Sukses, Jogjakarta, 2008, hlm. 83
[4]http://setabasri01.blogspot.co.id/2010/12/perkembangan-pemikiran-manajemen.html
[5]Drs. H. Zuhri I.M., Manajemen ( Beberapa Masalah Pokok ),Semarang, 1987, hlm. 37
[6]Dr. Z. Heflin Frinces, BSc, MSc.Soc, MA, Manajemen Konsep Membangun Sukses, Jogjakarta, 2008, hlm. 80-83
[8]Drs. M. Nur Nasution, M.Sc., APU.,Manajemen Perubahan, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010, hlm. 6
[10]Dr. Z. Heflin Frinces, BSc, MSc.Soc, MA, Manajemen Konsep Membangun Sukses, Jogjakarta, 2008, hlm. 83
[11] Dr. H. B. Siswanto, M.Si.,Pengantar Manajemen, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005, hlm. 33

ILMU DAKWAH



BAB  I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Seiring perkembangan zaman,berkembang pula kebudayaan gaya hidup, maupun kebiasaan yang menjadi rutinitas masyarakat modern.Dalam menanggapi berbagai pengaruh kebudayaan yang masuk di dalam masyarakat,di perlukan suatu kegiatan keagamaan sebagai sarana meningkatkan kualitas keagamaannya.salah satu cara tersebut adalah kegiatan berdakwah.
Dakwah sebagai aktifitas yang sangat penting dalam islam.Dimana dakwah dapat tersebar dan diterima oleh masyarakat.Sebalinya tanpa adanya dakwah,maka perlu pula mempelajari secara mendalam mengenai dasar, hukum dan tujuan dakwah sebagai upaya memperkaya pengetahuan. Pada dasarnya ajaran islam yang disiarkan melalui dakwah dapat menyelamtkan manusia dan masyarakat pada umumnya dari hal-hal yang dapat membawa pada kehancuran.
Berkaitan dengan kewajiban umat islam untuk berdakwah yang secara kongkrit telah terkodifikasi didalam Al-Qur’an, sehingga hal ini berkolerasi dengan materi mata kuliah pengantar Ilmu Dakwah yang menawarkan pembahasan tentang dasar, hukum dan tujuan dakwah.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dasar Hukum Dakwah?
2.      Apa yang dimaksud dengan Tujuan Dakwah?


C.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian dasar hukum dakwah
2.      Untuk mengetahui pengertian tujuan dakwah





BAB II
PEMBAHASAN
A.    DASAR HUKUM DAKWAH
Titik  tolak atau pijakan untuk mendasari hukum dakwah adalah Al-Qur’an dan Hadits. Berdasarkan kedua sumber hukum Islam tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa dakwah merupakan kewajiban bagi setiap manusia yang mengaku dirinya telah Islam. Tidak ada alasan lain untuk meninggalkan aktivitas dakwah kecuali manusia telah meniggalkan dunia yang fana ini. Dakwah yang dimaksud dalam pengertian di sini bukan hanya pidato, melainkan mencakup pengertian yang luas dan meliputi seluruh aspek atau bidang kehidupan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (النحل : 125)
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl : 125)
Kata ud’u dalam ayat di atas, diterjemahkan dengan seruan, panggilan atau ajakan. Kata ud’u merupakan fiil amar yang berarti perintah dan setiap perintah adalah wajib, serta harus dilaksanakan selama tidak ada dalil lain yang memalingkannya dari kewajiban itu kepada sunnah atau hukum lain. Jadi, melaksanakan dakwah adalah wajib karena tidak ada dalil-dalil lain yang memalingkannya dari kewajiban itu dan hal ini disepakati oleh para ulama. Dengan demikian dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa hukum melaksanakan dakwah adalah wajib (fardu ain) dan harus dilaksanakan oleh setiap muslim.[1]
Berkaitan dengan hukum dakwah, ada perbedaan pendapat antara ulama’ yang satu dengan ulama’ yang lain, yakni ulama’ yang berpendapat bahwa hukum dakwah adalah fardhu ‘ain dan ulama’ yang berpendapat bahwa hukum dakwah adalah fardhu kifayah. Pendapat ulama’ yang pertama mengatakan bahwa dakwah itu hukumnya fardhu ‘ain, maksudnya setiap orang Islam yang sudah baligh (dewasa), kaya, miskin, pandai dan bodoh semuanya tanpa kecuali wajib melaksanakan dakwah. Sedangkan ulama’ yang berpendapat bahwa hukum dakwah adalah fardhu kifayah mempunyai maksud bahwa apabila dakwah sudah dilaksanakan oleh sebagian atau sekelompok orang, maka jatuhlah kewajiban dakwah itu dari kewajiban seluruh kaum muslimin sebab sudah ada yang melaksanakannya walaupun hanya sebagian orang.
Perbedaan pendapat para ulama’ di atas disebabkan karena adanya perbedaan penafsiran terhadap Al-Qur’an Suarat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104)
Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran : 104)

Berkaitan dengan hukum dakwah, ada perbedaan pendapat antara ulama yang satu dengan ulama yang lain, yakni ada ulama yang berpendapat bahwa hukum dakwah adalah fardu ain dan ada pula ulama yang berpendapat bahwa hukum dakwa adalah fardu kifayah. Pendapat ulama yang pertama mengatakan bahwa dakwah hukumnya fardu ain, maksudnya setiap orang islam yang sudah baligh (dewasa), kaya, miskin, pandai dan bodoh semuanya tanpa kecuali wajib melaksanakan dakwah. Sedangkan ulama yang berpendapat bahwa hukum dakwah adalah fardu kifayah mempunyai maksud bahwa apabila dakwah sudah dilaksanakan oleh sebagai atau sekelompok orang, maka gugurlah kewajiban dakwah itu dari kewajiban seluruh kaum muslimin sebab sudah ada yang melaksanakannya walupun hanya sebagian orang.[2]
H.R. Muslim
Artinya: Barang siapa di antar kamu melihat kemungkaran, hendaklah mengubahnya dengan tangan, jika tidak mampu dengan lisan, jika tidak mampu dengan hati dan itu selemah-lemahnya iman (H.R. Muslim).
Kata non dalam hadis tersebut adalah kata yang bermakna umum yang meliputi setiap individu yang mampu untuk mengubah kemungkaran dengan tangan, lisan, hati, baik itu kemungkaran secara umum atau khusus. Dengan demikian merubah kemungkaran adalah perintah wajib ain di laksanakan sesuai dengan kadar kemampuan. Jika tidak mampu melaksanakan salah satu dari tiga faktor tersebut maka dosabaginya, dan dia keluar dari predikat iman yang hakiki.
H.R. Bukhori
Artinya: Rasulullah bersabda: sampaikan lah apa-apa dariku walau satu ayat’ (H.R. Bukhori).
Perintah ini di sampaikan Rasulullah kepada umatnya agar mereka menyampaikan dakwah meskipun hanya satu ayat. Ajakan ini berarti bahwa setiap individu wajib ain menyampaikan dakwah sesuai dengan kadar kemampuannya. Ketika di suatu tempat atau daerah sudah ada sekelompok orang yang melaksanakan kegiatan dakwah maka dakwah telah menjadi fardu ain bagi orang tertentu, dan menjadi fardu kifayah bagi yang lainnya. Dengan demikian, dakwah bias menjadi fardu ain apabila disuatu tempat tidak ada seorangpun yang melakukan dakwah dan dakwah bisa menjadi fardu kifayah apabila di suatu tempat sudah ada orang yang melakukan dakwah.[3]

B. TUJUAN DAKWAH
Tujuan adalah merupakan salah satu faktor yang paling penting dan sentral dalam proses dakwah. Pada tujuan itulah dilandaskan segenap tindakan dalam rangka usaha kerja dakwah, demikian pula tujuan juga menjadi dasar bagi penentuan sasaran dan strategi atau kebijaksanaan serta langkah-langkah operasional dakwah. Karena itu, tujuan merupakan pedoman yang harus diperhatikan dalam proses penyelenggaraan dakwah.
Ada dua pembagian dalam tujuan dakwah yaitu:
(a) tujuan utama dakwah, yaitu terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai Allah;
(b) tujuan departemental dakwah, merupakan tujuan perentara. Sebagai perantara oleh karenanya tujuan deparemental berintikan nilai-nilai yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang diridai Allah.
Menurut syukir tujuan dakwah yaitu:
(a) mengajak manusia untuk menetapkan hukum Allah yang akan mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan bagi umat manusia seluruhnya,
(b) menegakkan ajaran agama islam kepada setiap insane baik individu maupun masyarakat, sehingga ajaran tersebut mampu mendorong suatu perbuatan yang sesuai dengan ajaran tersebut.
Menurut Alquran, salah satu tujuan dakwah terdapat dalam surah yusuf ayat 108 :
Yang berbunyi: katakanlah: inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujan yang nyata, Maha suci Allah, dan Aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.
Q.S. Ibrahim ayat 1
Yang Artinya: “Alif, Iaam raa; (ini adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha perkasa lagi Maha Terpuji”.
Dan Rasulullah Muhammad saw. Bersabda: Sesungguhnya aku diutus oleh Allah Swt. Untuk menyempurnakan akhlak yang muliya (H. Ibnu Majah).
Menurut ayat dan hadis di atas, salah satu tujuan dakwah adalah membentangkan jalan allah di ats bumi agar di lalui umat manusia, dan mengeluarkan manusia di dalam gelap gulita kepada cahaya terang benderang (20002) bahwa tujuan dakwah islam, dengan mengacu pada al qur’an sebagai kitab dakwah, yaitu : (1) dakwah merupakan upaya mengeluarkan manusia dari kegelapan hidup (zhulumat) menuju kehidupan cahaya yang terang (nur) (Q.S. Albaqarah: 527) (2) menegakkan sibghah allah (celupan hidup dari allah) dalam kehidupan makhluk allah (Q.S. Albaqarah: 138) (3) mengakkan fitrah issaniah (Q.S. Ar Rum: 30) (4) memproporsikan tugas ibadah manusia sebagai hamba allah (Q.S. Albaqarah:21 dan 56; Q.S. An Nisa: 36; Q.S. At Taubah: 31 (5) mengestafetkan tugas kenabian dan kerasulan (Q.S. Al Hasyr: 7) dan (6) menegakkan aktualisasi penegakan takwa, jiwa, akal, generasi, dan sarana hidup (Q.S. As syamsi: 8-10).
Berbagai tujuan dakwah sebagaimana tersebut tujuan di atas haruslah tetap menjadian perhatian bagi dai/juru dakwah sehingga proses dakwah yang di upayakan tidak mengalami deviasi atau kemelencengan tetap pada jalur dakwah dan mendapatkan rido allah, bahagia dunia dan akhirat.


BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Dakwah merupakan suatu usaha untuk menyeru, mengajak, dan mempengaruhi manusia agar selalu berpegang teguh pada ajaran Allah, guna memperoleh kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Usaha berdakwah tersebutadalah sebuah kewajiaban bagi kaum muslimin dan muslimat, sehingga dasar berdakwah bisa dibagi dua, yakni dasar keagamaan ( meliputi : Al-Quran, Al-Hadis, Ijtihad ) dan dasar kemasyarakatan atau kenegaraan.
Hukum dakwah dapat dikemukakan ke dalam dua pendapat. Dua pendapat tersebut bahwa  hukum dakwah adalah fardlu kifayah dan hukum dakwah adalah fardlu ` ain, yang dari keduanya dapat dijadikan bahan perbandingan, mengapa keduanya dapat diterima, untuk kemudian disesuaikan dengan tuntutan dakwah itu sendiri semenjak awal perkembangannya hingga sekarang dan untuk mendatang.
Terdapat bermacam-macam tujuan dakwah jika ditinjau dari berbagai segi maupun aspek. Akan tetapi berdasarkan berbagai literatur, disebutkan bahwa tema sentral dakwah adalah islam. Maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tujuan dakwah tidak lain dari tujuan islam itu sendiri, dengan menekankan bahwa dakwah bertujuan untuk mengubah sikap mental dan tingkah laku manusia yang kurang baik menjadi lebih baik atau meningkatkan kualitas iman dan islam seseorang. Jadi, tujuan tertinggi dari usaha berdakwah hanya semata-mata mengharap dan mencari Ridho Allah SWT.



[1] http://makalah-ibnu.blogspot.co.id/2011/05/tinjauan-tentang-dakwah.html diakses pada tanggal 3 oktober 2016 pukul 18.45 WIB
[2] Saerozi, Ilmu Dakwah, (Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2013), hlm. 21-23.
[3] Saerozi, Ilmu Dakwah,..............hlm. 23.